Gerbang Tinatar Tegalsari Pencetak Tokoh Terkenal


Gerbang Tinatar adalah Pondok yang berada di desa Tegalsari Jetis dan lebih dikenal dengan Pondok Tegalsari. Pondok ini didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari  pada abad 18 di desa Tegalsari, yaitu sebuah desa yang berada di Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo dan diapit oleh dua tepi  sungai, sungai Keyang dan sungai Malo. Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di Pondok ini. Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), desa Bantengan, dan lain-lain.

Dibawah asuhan Kyai Ageng Hasan Bashari, pondok ini berkembang pesat dan mencetak tokoh-tokoh ternama dan berjasa bagi bangsa Indonesia. Salah satu tokoh tersebut adalah Pakubuwono II. Pakubuwono adalah raja Kasunanan Kartasurya. Beliau pernah mengenyam pendidikan di Pondok Tegalsari ketika Kerajaan Kartasura sedang menghadapi pemberontakan Cina yang dipimpin oleh RM Garendi atau Sunan Kuning (1727-1749) . Dalam geger Pecinan semula Sunan Pakubuwono II  membantu orang- orang Cina melawan VOC.  Setelah orang- orang Cina dapat dikalahkan VOC, Pakubuwono 2 berbalik memihak VOC. Melihat sikap Pakubuwono 2 berbalik kepada VOC, Mas Garendi (cucu Sunan Mas) dengan didukung oleh rakyat memberontak dan berhasil menguasai Keraton Surakarta kemudian diangkat menjadi Sunan Kuning. Pakubuwono II terpaksa menyingkir mencari perlindungan kepada Kyai Ageng Mohammad Besyari di Ponorogo. Dengan mendapat bantuan dari Kompeni dan Kyai Ageng Muhammad Besyari beserta murid- muridnya, termasuk KH. Abu Mansur, Pakubuwono II dapat menduduki tahta kembali pada tahun 1668 Jawa / 1743 Masehi. Atas jasanya mengembalikan kedudukan Pakubuwono 2 menjadi raja di Surakarta inilah maka Kyai Ageng Muhammad Besyari mendapat tanah perdikan di Tegalsari , Jetis Ponorogo.

Selain Pakubuwono II, pondok tegalsari juga menelurkan tokoh handal yaitu RM Ronggowarsito. Nama aslinya adalah Bagus Burham. Ia adalah putra dari Mas Pajangswara dan cucu dari Yasadipura II, pujangga besar Kasunanan Surakarta.  Beliau adalah tokoh jawa yang terkenal dengan ramalan-ramalannya. Semasa remaja beliau pernah mengenyam pendidikan di Pondok Tegalsari.

Selain tokoh diatas, pondok Tegalsari juga telah melahirkan tokoh nasional, yaitu HOS Cokroaminoto. Haji Oemar Sait (HOS) Cokroaminoto lahir di Desa Bakur, Madiun Jawa Timur 16 Agustus 1883. Ia anak kedua dari dua belas bersaudara, putra dari Raden Mas Cokro Amiseno, seorang Wedana Kleco dan cucu RT Adipati Negoro Bupati Ponorogo. Beliau juga pernah mengenyam pendidikan dibawah asuhan Ki Ageng Besari. Belia adalah tokoh pergerakan Nasional Indonesia.

Itulah beberapa tokoh yang lahir dari pondok dipinggiraqn kota Ponorogo. secara tidak langsung Ponorogo menjadi pencetak tokoh-tokoh handal dinegeri ini.

Pondok Tegalsari pulalah cikal bakal Pondok Moderen Gontor lahir. Setelah Kyai Ageng Hasan Bashari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh beliau yang bernama Kyai Hasan Yahya. Seterusnya Kyai Hasan Yahya digantikan oleh Kyai Bagus Hasan Bashari II yang kemudian digantikan oleh Kyai Hasan Anom. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi, dari pengasuh satu ke pengasuh lain. Tetapi, pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Bashari, Pesantren Tegalsari mulai surut.

Alkisah, pada masa kepemimpinan Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang kepadanya. Maka setelah santri Sulaiman Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia diambil menantu oleh Kyai dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyai untuk memimpin pesantren saat beliau berhalangan. Bahkan sang Kyai akhirnya memberikan kepercayaan kepada santri dan menantunya ini untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s